Jumat, 03 Oktober 2014

Titik Terendah Selalu Menjadi Titik Tertinggi. (Dedicated for My Familly)

        Terkadang tak sedikit orang-orang beranggapan bahwa titik terendah , atau titik dimana kita sedang merasakan kegagalan, kegalauan, tak punya gairah, merupakan titik paling akhir dalam setiap proses. Padahal sebenarnya titik terendah itu adalah awal menuju ttik tertinggi. 
          Ippho Santosa, seorang motifator bisinis terkenal mengatakan bahwa sebenarnya titik terendah merupakan langkah untuk mencapai titik tertinggi. Karna ketika seseorang sedang berada pada titik terendah, sejatinya dia sedang menuju pada titik tertinggi. Ketika seseorang mengalami kegagalan dalam usahanya, ditambah memiliki hutang yang cukup banyak, maka sebenarnya kondisi ini adalah kondisi dimana seseorang sedang menuju pada kesuksesan yang sebenarnya. Kenapa?? Karna ketika seseorag sedang berada pada posisi tertekan seperti demikian, maka seseorang tersebut sangat dituntut untuk berfikir keras untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut, sehingga benar bahwa sebenarnya kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda. 
      Salahsatu contohnya ketika seseorang sedang sujud dalam sholat, yang gerakan tersebut merupakan gerakan pada titik tersendah dalam gerakan sholat. Padahal sebenarnya ketika seseorang sedang sujud, seseorang tersebut sebenarnya sedang merasa sangat dekat dengan Tuhannya, itulah kenapa sujud dalam sholat merupakan waktu dimana do’a kita di ijabah (waktu ijabah). Salah satu contoh lain adalah ka’bah. Secara geografis mungkin bangunan ka’bah berada pada titik paling rendah di kota mekkah, tetapi sejatinya ka’bah merupakan tempat dimana manusia merasa lsangat dekat dengan Tuhannya. Ka’bah juga merupakan titik tertinggi bagi umat Islam, pusat dari segala pusat aktifitas peribahan. 
    Namun dalam kenyataannya beberapa orang justru terjebak pada titik terendah tersebut, beranggapan bahwa proses sudah berakhir, tak ada harapan untuk melanjutkan proses tersebut. Padahal sebenarnya ada saat dimana kita mengalami titik balik menuju titik tertinggi. Salah satu titik balik yang saya rasakan adalah, ketika saya merasakan tak ada semangat dan gairah untu belajar, karna kegagalan studi yang cukup parah, maka cara yang saya lakukan untuk mengembalikan semangat tersebut adalah dengan cara pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Kembali berfikir bahwa sebenarnya saya masih memiliki keluarga yang selalu memberi semangat dalam setiap kondisi apapun. 
         Setiap orang punya waktu dan tempat untuk mendapatkan titik balik tersebut, selalu yakin bahwa Allah dan orang-orang terdekat selalu adauntuk kita. Berharap kita tak pernah putus asa, berharap bahwa kesuksesan pasti
bisa diraih