Senin, 26 Januari 2015

Bapak Tua Pembaca Koran



#ManfaatAbiezz
Assalammualaikum…
Selamat pagi sahabat…
Pagi ini dimulai seperti pagi – pagi yang biasanya, kicauan burung, kokokan ayam, kucing menggaruk, nenek kos yang selalu sibuk jemur pakaian di pagi hari. ya semuanya berkatifitas seperti pagi yang biasanya.
Aktifitas pertama pagi ini yaitu aktif yang sudah agak lama ditinggalkan, “BELI KORAN”. Entah kenapa pagi ini terketuk hati untuk membeli Koran dipinggir jalan sebrang Carrefour Yogyakarta. Mungkin bosan d.
Sengaja pagi itu saya beli Koran TEMPO, sekedar ingin melihat aktifitas Koran yang menurut saya korang yang paling objektif. Tapi kali ini saya tidak akan membahas Koran tersebut. Ada hal lain yang pada saat itu, waktu itu, tempat itu, yang seketika membuat saya malu. Tiba - tiba saya melihat kebelakang, dan terlihat sosok tua yang sepertinya sedang membawa barang -  barang bekas sekarung goni yang sangat besar.
Terlihat di tangan bapak tua itu sejumlah uang koin , ya kira – kira sekitar Rp 1.500 – 2000 an sepertinya. Berjalan dengan badan sedikit membungkuk, bapak tua menuju kerumunan penjual Koran, saya fikir bapak tua itu ingin mengumpulkan barang bekas di sekita penjual Koran tersebut, ternyata bapak tua tersebut menghampiri si penjual Koran sembari berucap dengan suara yang sangat pelan, “Mas, Tribun nya satu!”. Seketika setelah suara tersebut,  gerakan saya terhenti, betapa malunya saya saat itu melihat semangat bapak tua tersebut  untuk membaca, walau hanya  sekedar mengetahui hiruk pikuk aktifitas Indonesia dalam kacamata Koran local.
Saya sempat berfikir, mungkin saja setiap hari nya bapak tua tersebut selalu menyisihkan uang sekitar Rp 1500 – 2000 untuk membeli koran, melihat si penjual sudah taka sing dengan bapak tua tersebut. Setelah selesai membeli koran, bapak tua tersebut kembali berjalan dengan membawa sekarung barang bekas, ditambah satu koran Tribun yang baru ia beli.
Saya penasaran, kemana tujuan selanjutnya bapak tua tersebut, dan akhirnya saya putuskan mengikuti bapak tua tersebut dari belakang. Tak jauh dari tempat koran tersebut, bapak tua tersebut berhenti ditempat penyimpanan barang – barang pedagang kaki lima yang berjualan di malam hari. Saya lihat dari kejauhan ternyata bapak tua tersebut tengah khusyuk membaca lembaran – lembaran koran tersebut, dan akhirnya saya putuskan untuk pulang.
Sembari pulang, saya berfikir. Betapa kurang bersyukurnya saya selama ini, seluruh kebutuhan tercukupi, bahkan untuk membeli satu koran yang dibeli oleh si bapak tua tersebut saja, mungkin bisa terbeli dengan sisa kembalian uang makan di kantin.
Satu hal lain yang saya pikirkan yaitu, dengan segala keterbatasn yang dimiliki si bapak tua tersebut, masih saja menyisihkan waktu dan uang hanya untuk sekedar membaca koran. Lantas bagai mana dengan saya, dengan segala kelebihan yang saya miliki, boroboro beli koran, buku rujukan dosen saja masih jarang saya beli.
Pagi ini saya bersyukur lagi –lagi saya diingatkan oleh Allah dengan pelajaran di sekitar, betapa alam menjadi guru pembimbing setiap langkah yang di tunjuk Allah untuk membimbing setiap jalan. Semoga pelajaran ini bisa jadi teladan bagi kita semua, pembaca setia, termasuk saya pribadi untuk selalu bersyukur, berusaha, dan MEMBACA.