Assalammualaikum…
Selamat pagi sahabat…
Pagi ini dimulai
seperti pagi – pagi yang biasanya, kicauan burung, kokokan ayam, kucing
menggaruk, nenek kos yang selalu sibuk jemur pakaian di pagi hari. ya semuanya
berkatifitas seperti pagi yang biasanya.
Aktifitas pertama pagi
ini yaitu aktif yang sudah agak lama ditinggalkan, “BELI KORAN”. Entah kenapa pagi
ini terketuk hati untuk membeli Koran dipinggir jalan sebrang Carrefour Yogyakarta.
Mungkin bosan d.
Sengaja pagi itu saya
beli Koran TEMPO, sekedar ingin melihat aktifitas Koran yang menurut saya
korang yang paling objektif. Tapi kali ini saya tidak akan membahas Koran tersebut.
Ada hal lain yang pada saat itu, waktu itu, tempat itu, yang seketika membuat
saya malu. Tiba - tiba saya melihat kebelakang, dan terlihat sosok tua yang
sepertinya sedang membawa barang -
barang bekas sekarung goni yang sangat besar.
Terlihat di tangan bapak
tua itu sejumlah uang koin , ya kira – kira sekitar Rp 1.500 – 2000 an
sepertinya. Berjalan dengan badan sedikit membungkuk, bapak tua menuju
kerumunan penjual Koran, saya fikir bapak tua itu ingin mengumpulkan barang
bekas di sekita penjual Koran tersebut, ternyata bapak tua tersebut menghampiri
si penjual Koran sembari berucap dengan suara yang sangat pelan, “Mas, Tribun nya satu!”. Seketika setelah
suara tersebut, gerakan saya terhenti,
betapa malunya saya saat itu melihat semangat bapak tua tersebut untuk membaca, walau hanya sekedar mengetahui hiruk pikuk aktifitas Indonesia
dalam kacamata Koran local.
Saya sempat berfikir,
mungkin saja setiap hari nya bapak tua tersebut selalu menyisihkan uang sekitar
Rp 1500 – 2000 untuk membeli koran, melihat si penjual sudah taka sing dengan
bapak tua tersebut. Setelah selesai membeli koran, bapak tua tersebut kembali
berjalan dengan membawa sekarung barang bekas, ditambah satu koran Tribun yang
baru ia beli.
Saya penasaran, kemana
tujuan selanjutnya bapak tua tersebut, dan akhirnya saya putuskan mengikuti
bapak tua tersebut dari belakang. Tak jauh dari tempat koran tersebut, bapak
tua tersebut berhenti ditempat penyimpanan barang – barang pedagang kaki lima
yang berjualan di malam hari. Saya lihat dari kejauhan ternyata bapak tua
tersebut tengah khusyuk membaca lembaran – lembaran koran tersebut, dan
akhirnya saya putuskan untuk pulang.
Sembari pulang, saya
berfikir. Betapa kurang bersyukurnya saya selama ini, seluruh kebutuhan
tercukupi, bahkan untuk membeli satu koran yang dibeli oleh si bapak tua
tersebut saja, mungkin bisa terbeli dengan sisa kembalian uang makan di kantin.
Satu hal lain yang saya
pikirkan yaitu, dengan segala keterbatasn yang dimiliki si bapak tua tersebut,
masih saja menyisihkan waktu dan uang hanya untuk sekedar membaca koran. Lantas
bagai mana dengan saya, dengan segala kelebihan yang saya miliki, boroboro beli koran, buku rujukan dosen
saja masih jarang saya beli.
Pagi ini saya bersyukur
lagi –lagi saya diingatkan oleh Allah dengan pelajaran di sekitar, betapa alam
menjadi guru pembimbing setiap langkah yang di tunjuk Allah untuk membimbing
setiap jalan. Semoga pelajaran ini bisa jadi teladan bagi kita semua, pembaca
setia, termasuk saya pribadi untuk selalu bersyukur, berusaha, dan MEMBACA.
